selamat datang di sketsa dunia kecilku semoga sesuatu yang kecil ini akan bermanfaat meski hanya secuil

Minggu, 29 Januari 2012

Dialog Pantai


Suatu sore disuatu pantai, ketika mentari senja bersinar hangat, dan angin sepoi-sepoi. Sepasang anak manusia, layaknya sepasang kekasih bergandengan, berpelukan. Menyusuri bibir pantai menyapa ombak, menikmati nyanyian angin dan riak gelombang. Dan angin mendesir uwir-uwir menjamah pasir yang menerbangkan angan dan impian, impian sepasang kekasih, penuh harap dan angan. Langit diatas sana secerah hatinya, seindah cintanya. “mas, aku tak ingin pulang, aku selalu merindukan saat-saat kayak gini,..” kata perempuan itu manja sambil nggelendot dipundak si lelaki. Lelaki itu hanya tersenyum sambil mempererat pelukannya, seakan takut kalau-kalau kekasihnya akan terbawa angin, sambil mata dan perasaannya menerawang jauh diujung samodera, ujungnya mimpi dan angan. “Aku pun akan setia dengan cintamu, sayang,..” kata si lelaki dalam hatinya. Dan Alam pun mendengar harapan keduanya, maka jadilah si perempuan itu menjadi bibir pantai, pantai dengan pasir yang memanjang dan luas. Dan si lelaki menjadi ombak, ombak yang selalu setia mencumbui bibir pantai. Pantai dengan pasir yang halus, berlekuk-kelok dan hangat.

Ditempat lain yang masih di pantai itu. Sepasang kekasih dengan cintanya, yang menggelora, menggebu-gebu seperti gelegar ombak yang dahsyat, sedang berasyik-masyuk. Tak menghiraukan sekelilingnya, kayak dunia ini hanya milik mereka berdua, tentu saja orang lain cuma numpang doang, mungkin pikirnya. “Mas,.. bagaimana seandainya orang tua ku tak menyetujui hubungan kita?” Tanya si wanita. “Apapun yang terjadi aku tetap memilihmu, sayang, mencintaimu, tiada yang lain”. Kata si lelaki, “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”. Tambahnya. Hordaa pring!,.. sekejap kemudian jadilah keduanya karang ditengah lautan. Karang yang tegak menantang hantaman ombak, berdiri tegak, keras dan tajam. Setajam dan sekeras kemauan cinta mereka berdua.

Masih dipantai yang sama, lelaki muda berjalan gontai, putus asa. Kayaknya sih sedang prustasi dia. Ach, Alam sebagai penyaksi, jadilah ia burung camar. Dan ia menjadi ceria sekali, meski kadang menjerit dengan pekikan yang menyayat hati. Kini ia beterbangan kesana-kemari, mencari mangsa, mencari belahan hati. Di tempat yang sama, wanita muda duduk termenung sendiri. Tak mau berkawan dan menikmati kesendiriannya, mengenang masa, tergenang kenangan indah yang pernah dilaluinya. Siang-malam kerjanya melamun dan bersendiri, dimatanya tak membayang harap dan mimpi. Seakan langit runtuh menimpa ia sendiri.Lantas Alam pun menjadikannya perahu. “Hah? Perahu?” tanyaku terheran-heran. “Ya, dengan menjadi perahu hidupnya akan lebih berarti”. Kata-Nya. “Meski dia hanya diam, tapi dia akan mengantar siapa saja untuk sampai ketujuannya. Dan itu akan lebih bermanfaat daripada ia hanya sebagai manusia penyendiri dan tergenang masa lalu saja”. Ku pikir, benar juga ya, dia akan membawa penumpangnya ketengah laut, menyisir di tepian pantai, menyusuri sungai sampai ke hulu. Mengail dan menjala ikan, atau mengantar orang yang akan menyeberang. Dan juga mereka yang sedang berpiknik dan bersenang-senang. Lelaki perempuan sama saja, boleh naik dan mendayung, menikmati panorama sungai dan laut. Sendiri atau beramai, sekali dayung dua atau tiga pulau dapat terlampau. Memecah ombak menentang badai, siang-malam selalu bergoyang, selalu tergenang,selalu tergenang,…

Yogyakarta, 2012.

Sabtu, 28 Januari 2012

Matahari dan Rembulan


Namaku Yanto, Yanto Brahma Susastro. Tapi kalo malam tiba namaku akan berganti Yanti, Yanti Kusumaati. Dan tubuh juga perangaiku yang gagah dan jantan di siang hari, kini berganti menjadi lemah gemulai, cantig dan ach, bah peragawati gituloh. Siapa sih yang engga tertarik dengan ku? Kalo aku sudah diatas panggung, waduh-waduh Madonna tewas bo! Hahaha, bener lho, itu kata fans ku, jadi bukan aku lah yang jadi ge-er. Aku menyanyi bagai bintang panggung dan memang itu adalah kenyataan. Jika MC sudah menyebut namaku, spontan penonton akan histeris sambil memberi aplaus panjang. Kadang aku sempat berpikir, mereka tertarik pada tubuhku atau suaraku ya? ach, entahlah masa bodoh! Tapi memang aku puas dengan semua ini, dengan gaya hidupku. Siang sebagai lelaki jantan dan handsome, terus malam menjadi bidadari di atas panggung. Dan dipuja pria dan wanita, aih-aih, mereka akan puas jika setelah menyanyi, terus kuberi cium jauhku dan perlahan kutiup diatas telapak tanganku sambil kupermainkan sedikit bibirku. Ach, mampus dech loo!, he he he.

Sebagai Yanto Brahma Susastro, aku adalah pejantan tangguh. Gini-gini, cewekku cakip-cakip loh, ada Mira, Mia, Yuni, Desi dan banyak lagi lah yang lainnya. Sampai aku kadang lupa mengingat nama mereka. Sebab bercinta dengan mereka sama sekali ga ada yang berkesan dan membekas. Bagiku mereka semua sama, meski kalau aku rasakan seperti permen. Ada yang rasa manis, asin, asam dan tentu saja dalam takaran yang berbeda. Satu hal yang membuat mereka sama, mata duitan. Lebih halus kan dari pada kukatakan matre. Ach, tapi kupikir itu manusiawi lah, siapa sih jaman gini yang ga gitu? Apalagi aku pria tampan dan berpenghasilan, dirumah sendiri lagi. Tapi benar kok, aku sama sekali tak berkeinginan hidup bareng dengan mereka. Dan itu diawal pacaran kita sudah membuat komitmen bersama. Jadinya ya, gitu dech! Aku sudah merasa menjadi manusia sempurna, sehingga aku tak butuh hidup seperti orang kebanyakan. Menikah, punya anak, ngurusi ini-itu, haduh-haduh, capek dech!

Sebagai manusia yang sempurna, kehidupan percintaanku ga selalu mulus loh? Banyak cewek-cewekku yang menyakiti aku, didepanku mereka jaim, sok alimlah. Tapi dibelakangku mereka punya kekasih lain. Kurang apa sih aku? Tapi ga apa kok, kupikir itu juga manusiawi, dan meski kecewa tapi aku ga sakit hati kok, suwer! Dan sebagai Yanti, jangan dikira aku selalu bahagia. Lebih banyak yang memujaku sebagai Yanti daripada kehadiranku sebagai Yanto. Pernah suatu saat aku berkencan dengan seorang pria, itu terpaksa aku lakukan sebab sering kali ia selalu menyita perhatianku dan selalu merengek agar aku menerima cinta-nya. Jadi karena kasihan dan dengan sangat terpaksa kuladeni kamauannya berkencan. Sekali, dua kali berkencan mungkin baginya itu adalah kencan yang indah. Terus sampai suatu ketika kami berkencan dan bercinta hebat, aku jelaslah sampai terangsang. Tapi tiba-tiba aku merasa aneh, seakan aku kembali lagi menjadi Yanto. Yanto Brahma Susastro, si lelaki tulen itu, dan bisa dibayangkan kan? Bagaimana jadinya lelaki yang mengajaku kencan tadi? He he he, mungkin itu pengalaman pahit, tapi sekaligus pengalaman yang lucu buatku. Aku adalah si Yanti Kusumaati, si bintang panggung. Bukan teman bercinta bagi lelaki manapun!

Dan jika malam telah menjelang, ini adalah saat yang paling aku nantikan. Lihatlah, perlahan bulu-bulu di tangan, kaki dan kumis serta cambangku menjadi lenyap. Dan dadaku kian mendesak keluar dan menonjol, dengan tonjolan yang indah. Kakiku menjadi mulus dan langsing, dan pinggulku, aduhai kata mereka. Ach, kurasa malam ini aku adalah wanita yang sempurna. Aku si Yanti Kusumaati, bintang panggung siap menghibur anda. “Sudah siap belum?” dan dikejauhan lamat-lamat kudengar senandung, matahari dan rembulan, berkejaran ingin berpelukan,…

Yogyakarta,2012.

Rabu, 25 Januari 2012

Ciuman yang membekas di Batu Candi


Dieng Plateau masih berkabut ketika pagi sekali kutinggalkan kamar hotel. Aku bergegas ke situs candi-candi itu, karena aku tak ingin kehilangan momen pagi. Momen pagi yang entah mengapa kuanggap sangat penting bagiku. Aku tak berharap dapat melihat matahari terbit, karena tempat ini memang dikelilingi gunung-gunung, atau lebih tepatnya bukit-bukit. Dan kalau boleh jujur alam disini ketika pagi begini, lebih tepatnya seperti hawa kulkas. Dingin, berkabut dan nafas ini selalu mengeluarkan uap embun. Aku jadi berharap matahari itu terbit, tapi matahari yang ada dalam alam khayalku. Yang dengannya aku berharap tidak saja menhangatkan tubuhku, tapi lebih pada gairahku. Ya, aku ingin semangatku selalu terbakar olehnya. Matahari yang tercipta dalam tubuhku, dalam alam pikiranku.

Kumasuki pelataran candi-candi ini. Tubuhku agak menghangat, walaupun jarak dari hotel ke situs ini tidak begitu jauh, tapi cukup menyulut bara matahari dalam tubuhku. Hal yang selalu sama aku rasakan setiap kali memasuki pelataran candi ini. Walaupun entah untuk yang keberapa kali aku ketempat ini. Tapi, kali ini adalah pagiku yang pertama kalinya aku disini. Memang lain, atau karena hanya aku sendiri yang menikmati pagi di candi ini. Entahlah, tapi kali ini kurasakan lain dari biasanya. Tapi aneh, aku seperti tidak sendiri disini, meski yang ada hanya batu-batu candi yang seperti diam dan beku. Ach, aku jadi ingat, betapa bergegasnya aku ketika menemui kekasihku, waktu masa sekolah dulu. Dan setelah bertemu, kami hanya saling memandang malu, tak berkata-kata. Hanya senyum dan tentu saja perasaan yang melayang. Hehehe, kok jadi melayang kesana ya? entahlah

Aku berjalan pelan mengelilingi pelataran candi. Kunikmati betul suasana pagi ini. Sendiri, berkabut, embun dan batu candi. Bahkan alampun seakan masih membisu, ngelangut dan ngangleng. Aku berhenti pada salah satu candi. Salah satu candi yang menurutku sangat berbeda dengan yang lainnya. Mungkin karena dibagian tubuh candi ini terdapat beberapa gambar dewa sehingga dia berbeda dengan yang lain. Tapi memang iya sih, aku sedikit tertarik dengan gambar-gambar itu, meskipun sudah terlihat rapuh dan tak utuh lagi. Mungkin itu Syiwa, Guru atau Wisnu. Tapi satu gambar yang kuyakini dan aku benar-benar tertarik. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Gambar relief itu sudah tak utuh, tak berwajah dan bahkan dua bagian yang berada di dada, bagian yang menurutku sangat menarik itu, sudah tak ada lagi. Mungkin karena dia sangat cantik dan menarik, sehingga ada saja tangan-tangan usil yang selalu ingin menjamah dan akhirnya? Seperti yang kulihat, mencongkelnya dan menyimpannya, mungkin.

Dari jarak tertentu dia kupandang. Aneh, sepertinya dia juga menatap dan mengamatiku. Dan tangannya yang berjumlah empat itu mulai sedikit bergerak. Tangannya menggenggam bunga, anak panah dan yang dua lainnya membawa entah, aku tak memperhatikan. Kini tubuhnya yang ramping itu mulai sedikit bergoyang. Dan kakinya yang jenjang mulai menapak, dia bergerak, bergoyang, goyang yang gemulai dan turun di pelataran candi. Mungkin dia menari atau bergerak, tapi gerak dan goyang yang sangat menawan. Aku larut dalam tariannya, tarian dengan gerak pelan dan memperlihatkan gemulai lekuk tubuhnya yang aduhai. Pelan dia seakan menghampiriku dan memberikan bunga yang sudah tak utuh. Aku terima bunga itu dengan tubuh bergetar, dan tak kurasakan lagi detak jantung juga desah nafasku. Ketika bunga itu kusentuh, dan, plass,… dia kembali pada tubuh candi. Dan bunga yang kuterima itu menjadi secuil batu. Secuil batu candi seperti kelopak bunga, tapi seperti juga sepasang bibir, sepasang bibir yang saling menangkup, seperti ciuman yang membekas di batu candi.

*kenangan esuk uthug-uthug berdingin-dingin di pelataran candi Dieng. Yogyakarta, 2012.

Anjing dan Kucing


Tadinya anjing dan kucing adalah sepasang kekasih. Sepasang kekasih yang selalu berada dalam asuhan dewi percintaan. Aku tak tahu wujud dewi percintaan itu seperti apa. Tapi sepertinya selalu membawa busur dan anak panahnya, (atau mungkin uang ya? entahlah,hehehe) anak panah yang menembus jantung-hati dua makhluk untuk bisa dapat saling mengasihi, mencintai dan saling dapat berbagi. Anak panah asmara. Dimana ada anjing, tentulah disitu ada kucing juga. Begitu sebaliknya, pokoknya mereka selalu lengket. Bukan lagi selengket perangko, tapi mungkin selengket lem tikus, sebab bukan hanya tikus yang dapat dijerat, tapi gajah pun dapat.

Percintaan anjing dan kucing adalah percintaan murni. Percintaan murni dan suci kalau boleh aku katakan. Sebab mereka saling jatuh cinta, ya jatuh cinta begitu aja, satu sama lain saling suka. Tanpa mempertimbangkan ras, suku bangsa apalagi status sosial maupun harta benda. Dan yang lebih penting mereka adalah dua makhluk yang berlainan jenis yang saling jatuh cinta. Anjing yang pejantan dan kucing si betina. Karena itu adalah percintaan yang murni, maka itu mungkin yang sekarang banyak ditiru oleh manusia, manusia banyak yang berwatak dan berkelakuan hanya seperti anjing ataupun kucing. Tapi sayangnya mereka hanya berpura-pura saja. Tidak menyelami watak yang sebenarnya, maka mungkin hal itu terus menjadi olok-olok belaka. Betapa romantisnya ketika saat mereka bertemu untuk pertama kalinya, “Namaku anjing”, kata si anjing sambil mengulurkan tangan yang disambut hangat si kucing. “Aku kucing”, kata si kucing sambil tersipu malu. Dan hati mereka saling berkata-kata, “Aku jatuh cinta padamu”,kata si anjing. Si kucing meski tak berkata tapi bahasa tubuhnya menyambut hangat pernyataan cinta si anjing. Dia hanya tersipu malu, sambil memperlihatkan senyuman yang tentu saja sudah dipersiapkan meskipun itu tak dibuat-buat. Semanis madu, bukan gula-gula. Sejak itu dunia seakan menjadi milik mereka berdua. Tiada hari yang dilalui tanpa rasa cinta dan saling mengasihi. Ach, betapa indah hari-hari mereka, hari-hari yang selalu dipenuhi dengan bunga-bunga cinta. Bunga dari pohon cinta yang selalu mereka rawat dan terpupuk dengan baik. Bukan pupuk bersubsidi yang jelas, sebab itu tak pernah sampai pada mereka. Dan jelas hanya kaum kapitalis yang banyak menikmatinya.

Si kucing mempunyai majikan lelaki tampan, berpenghasilan dan kaya. Dan anjing dipelihara wanita cantik, kaya raya dan masih single. Begitu pula majikan kucing, lelaki yang masih dan telah lama menjomblo. Mereka berharap majikan mereka dapat melakukan hal yang sama seperti mereka (yang saling jatuh cinta itu), kurang apa sih? Lelaki bujang, berpenghasilan dan wanita cantik yang sama-sama kaya. Tapi sayangnya mereka tidak saling suka. Majikan kucing tak menyukai anjing. Begitu sebaliknya, majikan anjing tidak menyukai kucing. Lelaki bujangan itu lebih menyukai piaraannya, Si kucing betina yang lucu, imut dan cantik. Dan wanita kaya itu juga lebih memilih anjingnya daripada yang lain. Anjing jantan yang menurutnya setia, patuh dan selalu menjaganya. Dan itu bagi mereka adalah piaraan yang menyenangkan, lebih dari apapun. Itu bagi anjing dan kucing adalah awal bencana bagi hubungan percintaan mereka. Keduanya jadi tak pernah bertemu, meski sempat diam-diam pertemuan itu mereka lakukan. Majikan keduanya melarang keras, ketika mengetahui anjing dan kucing saling men-cintai. “Aku melarangmu berkawan dengan anjing, kucingku yang cantik”, kata Lelaki itu. “Aku tak suka bau kucing menempel ditubuhmu, anjingku sayang”,.. kata si Wanita. Dan keduanya adalah hewan piaran yang setia, patuh dan selalu menjaga majikannya dengan sempurna. Jadinya mereka tak pernah lagi bertemu dan bercinta.

Yogyakarta, 2012.

Naik Hewan Impian


Semalam aku bermimpi, ketika terbangun dari tidur kulihat isteriku tersenyum manis disampingku. Aku tadinya tak yakin dengan apa yang kulihat, mungkin ini mimpi. Tapi dengan cepat aku menampik, bukan! Ini bukan mimpi. Isteriku memang cantik, tapi bukan kecantikan itu yang aku permasalahkan. Seperti ada sesuatu yang memancar dari kecantikan wajahnya, dan sepertinya juga ada sesuatu yang membuat hatiku bergetar melihat pandangan matanya. Dan bibir yang tersenyum hangat itu, ach, bukankah aku selalu mencumbuinya siang-malam? Tapi selalu membuat aku lupa. Memang, keasyikan yang menyenangkan kadang membuat aku sering lupa. Sehingga aku tak bosan melakukannya berulang kali.

Isteriku menggeliat sambil meregangkan kedua tangannya. Ya ampun, pandanganku menelusuri alur kelok tubuhnya yang menawan seperti aku memandangi lembah, ngarai, dan dataran yang ditumbuhi ilalang lembut yang bergoyang dihembus angin sore. Dan bukit-bukit itu, selalu saja aku ingin sampai kepuncaknya, puncak yang damai dan tenang. Ya, pemandangan itu yang membuatku selalu merasa jatuh cinta, dan desah nafasnya, uhui, seperti nyanyian pucuk-pucuk cemara melagukan balada percintaan. Anganku jadi melambung, mungkin sampai ke pucuk-pucuknya langit. Dan, Plokk!,.. tamparan yang agak lumayan mendarat di pipi kiriku. Nyamuk, mas,.. kata isteriku sambil tersenyum renyah.

Ayo mas kita terbang, katanya sambil merangkul tubuhku dari belakang. Aneh sekejap kita telah berada diatas sekuter, sekuter bersayap yang kerap menjemput dan mengantarku terbang ke langit. Bukan! Ini bukan sekuter bersayap, aku lebih suka menamainya hewan impian. Hewan yang selalu dengan kesabaran dan keuletan serta kesetiaannya selalu mengantarku ke alam nyata dan mimpi, alam yang kerap aku cumbui dengan khidmat. Mas, mas,.. aku ingin terbang ke bulan, bisik isteriku manja. Aku tak menjawab, tapi mengulum senyum tanda mengiyakan. Dan, weerrr,..kita pun ke bulan. Bulan yang bundar dan bersinar terang, terang yang cemerlang dan hangat. Juga kadang tersenyum dengan bibirnya yang runcing, yang semasa kecil dulu aku selalu ingin bergandul disudutnya, sudut yang runcing dan tajam, seperti menancap dilangit biru yang gelap.

Kalo yang disana itu pasti gunung ya mas, kata isteriku sambil menunjuk sudut cakrawala. Gunung dengan bentuk seperti tumpeng lengkap dengan pucuk kawahnya seperti asap rokok yang mengepul, berbaur diantara mega dan awan, asap dan kabut. Kita menelusuri lembah-lembahnya yang luas ditumbuhi alang-alang, tempat kupu-kupu, belalang, kumbang dan jangkrik berlarian. Terus kutelusuri lereng-lereng dan bukit, pucuk-pucuk pinus yang melambai. Itu kan, bukit kita mas,.. Bukit Biru? Kata isteriku setengah bertanya. Ya, bukit biru, bukit dimana kita pernah bercinta dan menyetubuhi alam dengan damai dan tenang. Ach, masih membekas kenangan itu, kenangan yang selalu terukir dan tergambar tepat dibawah puncak bukit biru. Dan angin gunung yang selalu membangkitkan suasana ngelangut dan ngangleng.

Yang disana itu pasti pantai, mas, pantai yang berisik dan hangat. Ayo mas, kita kesana aku rindu bau pantai, pantai yang amis dan pasir yang hangat. Tempat kita pernah berselurup dan bermain air, juga mengukir kenangan dibibir pantai yang selalu dicumbui ombak. Ach, nafas kita pernah saling beradu diantara angin dan ombak, pasir dan rerimbunan daun pandan. Mas masih ingatkan? Mas, pernah berjanji setia seperti ombak? Dan menciumku seperti hangat pasir pantai? Kata isteriku, bertubi-tubi mengenang masa lalu sambil mempererat pelukannya dipunggungku yang juga jadi menghangat. Ahai, pandanganku jadi menerawang sampai keujung-ujungnya laut di cakrawala. Cakrawala tempat pandang dan kenangan saling bertaut, bertaut pada batas dan jarak, ruang dan waktu, yang saling berpusaran diantara karang dan laut, laut dan langit, langit dan semesta alam.

*selamat meraih mimpi kawan,…

Yogyakarta, 2012.